Pengantar Budidaya Jamur Tiram Putih (part 1)


PENGANTAR  BUDIDAYA  JAMUR TIRAM PUTIH (Pleurotus ostreatus)

jamur tiram putih

AdityaRial

PENDAHULUAN


Indonesia merupakan negara agraris dengan kekayaan alam yang begitu besar terutama tanaman pertanian yang sangat beragam. Kondisi ini selayaknya membuka mata kita betapa besarnya peluang usaha yang dapat kita upayakan di bidang ini. Didorong pula dengan adanya krisis global saat ini, bidang pertanian memberikan peluang yang sangat baik untuk menghasilkan wirausahawan – wirausahawan baru yang sejatinya dapat menekan angka pengangguran dengan terbukanya lapangan kerja baru. Lebih dari itu cita-cita untuk mewujudkan masyarakat mandiri menjadi hal yang sangat mungkin untuk dicapai. Salah satu usaha pertanian saat ini yang sangat prospektif dan potensial yaitu usaha budidaya jamur tiram (Pleurotus ostreatus).


Beberapa pertimbangannya antara lain :

  1. Daya serap pasar sangat tinggi dan semakin meningkat
  2. Bahan baku   mudah diperoleh dan murah
  3. Kebutuhan skill tidak begitu tinggi
  4. Belum banyaknya petani jamur tiram
  5. Tidak memerlukan lahan yang luas
  6. Jamur tiram merupakan pangan alternatif yang lezat, sehat dan bergizi tinggi.

SEKILAS  TENTANG  JAMUR  TIRAM

Jamur tiram dikenal pula dengan nama populer Oyster Mushroom dan nama ilmiah Pleurotus ostreatus. Tangkai tudungnya menyerupai cangkang tiram dengan bagian tengah agak cekung dan berwarna putih hingga krem. Tubuh buah memiliki batang yang berada di pinggir (bahasa Latin: pleurotus) dan bentuknya seperti tiram (ostreatus), sehingga jamur tiram mempunyai nama binomial Pleurotus ostreatus. Ukuran dan warna tudungnya pun bervariasi, tergantung dari jenisnya. Jamur tiram termasuk organisme yang bersifat saprofit yaitu  hidup pada bahan organik yang sudah mati seperti  kayu lapuk. Jamur tiram yang tumbuh di daerah dingin biasanya tudungnya lebih tebal dibandingkan dengan yang tumbuh di suhu yang lebih panas. Spora jamur tiram berbentuk elips dengan ukuran 9 x 4,5 µm (µm = 0.001 mm).

Ada beberapa jenis jamur tiram yaitu jamur tiram putih, jamur tiram merah jambu, jamur tiram kelabu,  dan jamur tiram coklat. Jamur tiram yang dikenal paling enak dan paling disukai masyarakat sehingga paling banyak dibudidayakan ialah jamur tiram putih. Jamur tiram putih memiliki ciri  warna tudungnya putih susu sampai putih kekuningan dengan garis tengah 5-25 cm.

Klasifikasi jamur tiram sebagai berikut :

Kerajaan        : Fungi

Filum             : Basidiomycota

Kelas              : Homobasidiomycetes

Ordo               : Agaricales

Famili             : Tricholomataceae

Genus             : Pleurotus

Spesies           : Pleurotus ostreatus

http://id.wikipedia.org/wiki/Jamur_tiram

Kandungan Nutrisi Jamur Tiram

Jamur tiram  merupakan salah satu jenis  jamur kayu yang memiliki kandungan nutrisi seperti protein, karbohidrat, lemak, fosfor, besi, thiamin, dan riboflavin yang lebih tinggi dibandingkan dengan jenis jamur kayu lainnya sehingga sangat baik untuk dikonsumsi manusia. 72% lemak dalam jamur tiram merupakan asam lemak tidak jenuh, sehingga aman dikonsumsi baik yang menderita kelebihan kolesterol (hiperkolesterol) maupun gangguan metabolisme lipid lainnya. 28% asam lemak jenuh serta adanya semacam polisakarida kitin di dalam jamur tiram diduga menimbulkan rasa enak. Jamur tiram  mengandung 9 macam asam amino yang dibutuhkan oleh tubuh manusia yaitu lisin, metionin, triptofan, threonin, valin, leusin, isoleusin, histidin dan fenil alanin.

Kandungan nutrisi dalam setiap 100 gram jamur tiram sebagai berikut :

kandungan

Dalam gram

Protein

Serat

Lemak

Abu

Karbohidrat

Kalori

Kalsium

Zat besi

Fosfor

Vitamin B1

Vitamin B2

Vitamin C

Niacin

13,8

3,5

1,41

3,6

61,7

0,41

32,9

4,1

0,31

0,12

0,64

5

7,8

Sumber FAO 1992

Bila dibandingkan dengan daging ayam yang kandungan proteinnya 18,2 gram, lemak 25 gram namun karbohidrat 0,0 gram       maka kandungan gizi jamur masih lebih lengkap. Selain itu Jamur tiram memiliki kandungan gizi yang lebih baik dibandingkan dengan bahan makanan lain seperti jamur merang, jamur kuping, daging sapi, bayam, kentang, kubis, seledri, buncis dll. Jamur tiram memiliki kandungan protein dan karbohidrat yang tinggi tetapi rendah lemak.

Jamur tiram juga bermanfaat dalam pengobatan seperti menurunkan kolesterol darah. Konsumsi jamur tiram selama 3 minggu dapat menurunkan kadar kolesterol hingga 40%. Selain itu jamur tiram juga dapat menyembuhkan hipertensi, mencegah penyakit diabetes mellitus, mempercepat pengeringan luka pada permukaan tubuh, menambah vitalitas dan daya tahan tubuh, serta mencegah penyakit tumor atau kanker, kelenjar gondok, influenza, sekaligus memperlancar buang air besar.

Jamur mengubah selulosa menjadi polisakarida yang bebas kolesterol sehingga orang yang mengkonsumsinya terhindar dari resiko terkena serangan stroke.

Habitat Hidup Jamur Tiram

Pertumbuhan  jamur tiram akan optimal apabila kebutuhan hidupnya  terpenuhi baik dari segi nutrisi maupun lingkungannya seperti suhu, kelembapan, aerasi, pH/keasaman, cahaya, serta kandungan air.

Lokasi

Budidaya jamur tiram  dapat tumbuh optimal sepanjang tahun di dataran yang letaknya antara 400m – 800m di atas permukaan laut (dpl). Sedangkan di daerah dataran rendah biasanya pertumbuhan jamur tiram tidak begitu baik. Hal ini dapat disiasati dengan membuat rumah jamur (kumbung) di tempat yang teduh dekat dengan pepohonan besar sehingga kelembapan nya cukup tinggi.

Suhu

Kisaran suhu untuk pertumbuhan jamur tiram adalah 15˚C hingga 30˚C.  Untuk pertumbuhan optimum miselium diperlukan suhu sekitar 22˚C – 28˚C. Sedangkan untuk pertumbuhan tubuh buah diperlukan suhu lebih rendah sekitar 20˚C – 26˚C. Untuk mengetahui secara pasti kondisi suhu ruangan dapat digunakan thermometer.

Kelembapan udara

Sebagaimana halnya jamur lain, faktor kelembapan tinggi merupakan syarat utama yang harus terpenuhi dalam budidaya jamur tiram. Kelembapan udara sangat berpengaruh pada pertumbuhan jamur tiram. Pada pembentukan miselium diperlukan kelembapan relatif 70% – 80%. Sedangkan saat pembentukan tubuh buah diperlukan kelembapan sekitar 80% – 90%. Meski demikian jamur tiram cukup toleran terhadap kelembapan 60 – 70 %.

Cara yang paling tepat untuk memastikan tingkat kelembapan ini ialah dengan menggunakan higrometer.

Aerasi

Proses aerasi merupakan hal yang juga vital dalam pertumbuhan jamur tiram. Jamur tiram seperti halnya jamur pada umumnya memerlukan kadar oksigen lebih tinggi pada saat pembentukan tubuh buah dibandingkan pembentukan miselium (tahap vegetatif)

pH / tingkat keasaman

pH ideal untuk pertumbuhan miselium dan tubuh buah yaitu antara 4 sampai 6. Untuk mengukur secara tepat derajat keasaman atau kebasaan dapat menggunakan pH meter atau kertas lakmus.

Kadar air

Kadar air substrat/media untuk pertumbuhan vegetatif tergantung jenis media yang dipakai. Untuk media kayu utuh kadar air optimum adalah 45-60% sedangkan dengan media serbuk gergajian diperlukan kadar air 60-75%.

Nutrisi

Seperti halnya tumbuhan lain, jamur tiram juga membutuhkan nutrisi terutama berupa sumber karbon, nitrogen, vitamin, dan mineral. Sumber karbon berupa senyawa pektin, hemiselulosa, dan pati. Sumber nitrogen dalam bentuk asam amino, ammonia, dan urea. Kadar nitrogen harus dalam konsentrasi yang tepat karena kadar yang berlebihan maupun kekurangan akan mengakibatkan pertumbuhan terhambat. Kebutuhan akan vitamin dapat terpenuhi melalui penambahan biji-bijian atau dedak. Sedangkan mineral pada dasarnya sudah dapat dipenuhi dari air dan media dasar itu sendiri.

Cahaya

Pada umumnya jamur memerlukan cahaya pada fase pertumbuhan tubuh buah terutama pada saat perangsangan terbentuknya tubuh buah (akhir fase vegetatif) sedangkan fase pertumbuhan vegetatif miselium diperlukan kondisi gelap.  Cahaya yang diperlukan dapat diperoleh baik dari cahaya matahari maupun dari cahaya lampu. Intensitas cahaya yang dianggap cukup apabila dalam ruangan kita dapat membaca koran dengan jarak satu lengan antara koran dan mata.

Media tanam

Media tumbuh jamur tiram sebagaimana halnya jamur kayu lainnya berupa bahan yang mengandung lignin dan selulosa yang umumnya terdapat pada tumbuhan berkayu. Secara alami jamur tiram biasa tumbuh pada batang kayu yang telah mati. Untuk memudahkan proses budidaya dan menurunkan biaya produksi biasanya produsen menggunakan media alternatif seperti jerami padi, ampas tebu, sisa kertas, kulit kacang, dan yang paling banyak digunakan yaitu serbuk gergajian.

Pemilihan bahan media ini tentunya berdasarkan tingkat efisiensi, harga yang murah, mudah diperoleh, dan hasil produksinya optimal. Selain bahan tersebut perlu ditambahkan pula bahan lain seperti dedak, kapur, dan  pupuk.

SARANA DAN PRASARANA


Sebagai langkal awal disarankan mencoba dalam skala kecil. Mengenai peralatan dapat menggunakan peralatan yang sangat sederhana, misalnya drum untuk pasteurisasi/pengukusan dapat membeli drum bekas yang harganya lebih murah. Cangkul, sekop, dan ember dapat diusahakan sendiri. Pada prinsipnya dengan modal kecil pun dapat memulai berkebun jamur tiram asalkan memiliki kemauan dan niat yang kuat.

Kelengkapan operasional

Perlengkapan yang diperlukan antara lain:

  1. Mesin produksi (steamer)
  2. Semprotan
  3. Plastic polypropylene,
  4. Cincin bambu, kapas, dan karet gelang
  5. Cangkul, sekop, dan ember plastic
  6. sendok bibit
  7. botol
  8. Thermo-higrometer

Rumah jamur (kumbung)

Rumah jamur perlu dibangun  dilokasi yang  memenuhi syarat kelembapan dan suhu udara lingkungan. Rumah jamur sebaiknya dibuat dari bahan bahan yang sederhana untuk menghemat biaya. Rumah jamur sederhana dapat dibuat dari kerangka bambu dengan menggunakan atap daun rumbia, anyaman bambu atau anyaman jerami padi. Di dalamnya dibuat rak-rak yang disekat-sekat untuk meletakkan baglog. Tinggi rak dibuat sedemikian rupa sesuai kapasitas bag log yang diinginkan bisa dibuat 3 hingga 6 tingkat.

kumbung pemeliharaan

Gambar kumbung pemeliharaan

kumbung jamur

Gambar rak pemeliharaan