PERTANIAN

pendidikan bidang pertanian


Modern farming practices for a Kyoto farmer planting rice seedlings
Modern farming practices for a Kyoto farmer planting rice seedlings

Fakta yang ada saat ini jurusan pendidikan yang berhubungan dengan bidang pertanian di berbagai perguruan tinggi sudah kurang diminati. Tentunya hal ini menjadi suatu keprihatinan karena Indonesia adalah negeri yang diberi karunia tanah yang subur dan iklim yang cocok untuk pertanian sehingga menjadi negeri agraris. Minat yang menurun untuk melanjutkan pendidikan di bidang pertanian ini memang dapat difahami dengan kondisi paradigma masyarakat saat ini. Pada umumnya tujuan masyarakat melanjutkan pendidikannya atau pendidikan anaknya ke jenjang yang lebih tinggi adalah untuk mendapatkan pekerjaan yang baik atau pekerjaan dengan honor/gaji yang memadai. Sangat sedikit yang melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi dengan tujuan untuk lebih mengembangkan pengetahuan dan keahliannya sesuai dengan bakat dan minatnya atau potensi dirinya untuk kemudian nantinya dapat menghasilkan prestasi yang tinggi di dalam pekerjaannya baik sebagai pegawai maupun sebagai wirausahawan.

Hal ini tentunya tidak terlepas dari sistem pendidikan di Indonesia yang ‘amburadul’ dan ‘tidak menghargai’ potensi diri dari peserta didik. Pendidikan di Indonesia ‘menyeragamkan’ kemampuan peserta didik yang secara alami tentunya berbeda dan masing-masing peserta didik memiliki kelebihan dibidang tertentu yang tidak akan bisa diseragamkan. Sangat mungkin terjadi disini seorang peserta didik yang sangat dihargai secara internasional karena misalnya menjuarai Olimpiade Matematika tetapi tidak lulus karena nilai Ujian Nasional salah satu mata pelajarannya dibawah standar kelulusan.

Pendidikan di Indonesia cenderung menggiring peserta didiknya menjadi seorang ‘generalis’ yang hanya mengetahui banyak hal dengan serba sangat sedikit, dibanding menjadi seorang ‘spesialis’ yang mengetahui sedikit hal tetapi sangat rinci dan menjadi sangat ahli dibidangnya sehingga sangat sulit dihasilkan seorang ahli atau profesional yang berkelas dunia melalui sistem pendidikan yang berlaku di Indonesia padahal bahan baku sumberdaya manusia Indonesia sebenarnya tidak kalah dengan bangsa lain.

Sebagai akibat dari paradigma masyarakat terhadap pendidikan dan juga akibat dari sistem pendidikan ini, banyak lulusan dari institusi pendidikan yang berasal dari jurusan pertanian pun yang akhirnya bekerja di luar bidang pertanian. Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa banyak lulusan dari jurusan pertanian yang bekerja di bidang perbankan misalnya ataupun sebaliknya lulusan dari jurusan non pertanian yang kemudian menekuni bidang pertanian walaupun kasusnya jauh lebih sedikit dibandingkan dengan kasus yang pertama. Adapun lulusan dari institusi pendidikan jurusan pertanian yang tetap bekerja di jalur pertanian mayoritas akan berlomba-lomba menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) diberbagai institusi pemerintah, dan selebihnya akan mencoba mencari kerja di BUMN atau perusahaan-perusahaan swasta yang bergerak di bidang pertanian.

Jadi sekali lagi yang menjadi tujuan adalah bagaimana mendapatkan pekerjaan yang baik dengan gaji yang layak dan mencukupi, bukan bagaimana bekerja untuk menghasilkan prestasi yang baik dan dapat mengembangkan bidang pertanian. Ujung-ujungnya sebagian dari para pegawai dibidang pertanian ini akan bekerja hanya sekedar memenuhi tugas dan kewajibannya saja tanpa disertai motivasi untuk mengembangkan dan meningkatkan kemajuan bidang pertanian apalagi untuk meningkatkan kesejahteraan para petani, sebagiannya lagi bekerja seadanya saja bahkan mungkin saja malah ada yang bekerja memanfaatkan posisi dan kedudukannya hanya untuk kepentingan pribadinya dan hanya sedikit yang bekerja dengan sepenuh hati untuk kemajuan bidang pertanian Indonesia sehingga yang dihasilkan pun baik itu hasil-hasil proyek penelitian, program kerja dan lainnya yang memakan biaya sangat tinggi sampai saat ini belum mampu menjadikan Indonesia sebagai negeri agraris terkemuka di dunia, jauh dari prestasi yang dicapai oleh negeri tetangga seperti Thailand misalnya.

Tentu saja pasti ada di negeri ini walaupun jumlahnya sangat sedikit, pegawai di berbagai institusi pertanian ini yang memiliki motivasi yang baik karena memang sudah sesuai dengan bakat dan minatnya, namun dugaan-dugaan negatif yang muncul sangat relevan dengan kondisi bidang pertanian yang memprihatinkan ini. Akibat lanjutannya tentu saja perkembangan bidang pertanian yang sepertinya tidak menjanjikan ini akan semakin menurunkan minat masyarakat untuk terus atau turut menekuninya sebagai bidang kerjanya dan sebagai bidang untuk melanjutkan pendidikannya.

Harus ada terobosan yang segera untuk memperbaiki kondisi ini yang dimulai dari sisi pendidikannya. Salah satu

foto-sawah-pesantren-organik-entrepreneur-organik
pesantren organik

alternatif yang sangat mungkin dilakukan karena lebih sederhana untuk dilaksanakan diantaranya adalah peningkatan program pendidikan di pondok pesantren-pondok pesantren yang berdiri di sekitar areal pertanian yang banyak tersebar sampai ke berbagai pelosok negeri ini dan umumnya bersifat independen dengan memasukkan agribisnis sebagai salah satu program pembelajaran bagi para santrinya. Pembelajaran agribisnis ini dapat meliputi budidaya komoditas pertanian (termasuk perikanan, peternakan, perkebunan dan kehutanan), penanganan paska panen termasuk pengolahan hasil panennya sehingga menghasilkan produk olahan, produksi peralatan pertanian, dan mengenai pemasaran serta kewirausahaan.

Tentunya pondok pesantren yang akan melaksanakan program ini idealnya memiliki atau menguasai pengolahan lahan pertanian setidak-tidaknya seluas sekitar setengah hektar atau lebih, tergantung kepada jumlah santrinya. Melalui program pembelajaran ini diharapkan akan dapat mengarahkan kemampuan sumber daya manusianya ke dalam berbagai bidang disiplin ilmu seperti budidaya pertanian, kedokteran hewan, teknologi peralatan, industri pangan, akunting, pemasaran, penelitian, dan bidang lainnya yang berbasis agribisnis. Manfaat lainnya selain mempersiapkan para santri untuk memiliki keahlian atau profesionalisme sejak awal, pembiayaan pendidikan pun diharapkan dapat disediakan secara mandiri melalui hasil praktik pembelajaran agribisnis ini.

Hal yang tidak kalah pentingnya adalah praktik ini dapat menjadi model dan tempat belajar juga bagi masyarakat sekitarnya yang menekuni bidang pertanian. Dengan demikian keberadaan pondok pesantren akan menjadi lebih bermakna bagi masyarakat di sekitarnya dan dapat menghilangkan kesan keberadaannya yang eksklusif ditengah-tengah masyarakat, yang biasanya masih ditampilkan oleh beberapa pondok pesantren terutama yang santri-santrinya banyak berasal dari luar daerah pondok pesantren itu berdiri. Pintu masuk untuk keberhasilan praktik pembelajaran ini adalah dalam hal membangkitkan motivasi bagi para peserta didik dan pengidentifikasian dari bakat dan minatnya yang bisa jadi bukanlah hal yang mudah dan sederhana.

Utju Suiatna, infoorganik.com

Tinggalkan pesan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s