PANDUAN UNTUK PEMULA

MEMBIDIK JENIS JAMUR YANG AKAN DIBUDIDAYAKAN (ARTIKEL BERSAMBUNG BAGIAN 4)


Setelah membahas kelayakan dan peluang usaha jamur konsumsi di artikel sebelumnya, tahap selanjutnya yaitu membidik jenis jamur yang akan kita budidayakan. Untuk itu ada baiknya kita mengetahui terlebih dahulu  jenis-jenis jamur konsumsi yang ada di dunia termasuk  di Indonesia.

Sebetulnya, para peneliti memperkirakan ada lebih dari 1 juta jenis jamur yang eksis di planet bumi ini. Prediksi ini dihitung  berdasarkan  rasio inang-jamur (1:6), artinya satu tumbuhan vaskular berasosiasi dengan 6 jenis jamur yang spesifik pada tumbuhan inangnya. Dari  prediksi tersebut hanya  7-10% yang baru teridentifikasi dan  dari hasil identifikasi tersebut hanya 5-10% yang sudah berhasil diisolasi. Beberapa diantaranya merupakan jamur yang bisa dikonsumsi. Berikut jenis-jenis jamur konsumsi (edible mushroom) yang dibudidayakan di dunia termasuk  diantaranya di Indonesia :

  1. Jamur Kancing atau Champignon (Agaricus bisporus)
peluang usaha jamur konsumsi.foto-jamur-kancing-jamur-champignon-budidaya-jamur-kancing
agaricus bisporus.jamur kancing

Klasifikasi

Kingdom             : Fungi

Divisi                   : Basidiomycotina

Kelas                    : Basidiomycetes

Ordo                     : Agaricales

Famili                   : Agaricaceae

Genus                   : Agaricus

Spesies                 : Agaricus bisporus

 

Deskripsi

Jamur kancing memiliki nilai organoleptik (rasa, aroma dan penampilan) yang tinggi dan menarik sehingga banyak digemari masyarakat dunia. Dalam bahasa Inggris jamur ini dikenal dengan sebutan table mushroom, white mushroom, common mushroom atau cultivated mushroom. Di Perancis disebut sebagai champignon de Paris.

Karena kelebihannya ini, dari sekian banyak jamur konsumsi yang telah berhasil dibudidayakan, jamur kancing/champignon termasuk jamur yang paling banyak dibudidayakan di dunia termasuk di Indonesia. Jumlahnya sekitar 38% dari total produksi jamur dunia. Amerika serikat dan Eropa termasuk kawasan yang paling banyak membudidayakan jamur ini. Di Indonesia, jamur ini banyak dibudidayakan di daerah dataran tinggi karena kebutuhan hidupnya yang memerlukan suhu dingin/rendah semisal di Pangalengan Bandung, dan Bumiayu perbatasan brebes-Purwokerto. Meski jumlah produksinya masih terbatas tetapi pasar jamur kancing Indonesia sudah masuk ke Singapura, Hongkong, Australia, dan  Amerika serikat. Dari pengalaman saya pribadi, banyak juga rekan-rekan baik dari dalam negeri maupun luar negeri yang memerlukan jamur ini. Sebagai contoh dari Jepang pernah  meminta  jamur ini hingga 40 ton per bulannya. Sayangnya  jamur ini termasuk masih sedikit dibudidayakan di Indonesia sehingga permintaan-permintaan seperti ini banyak yang tidak terpenuhi.

Selain jamur kancing putih yang banyak kita kenal, sebetulnya ada beberapa jenis Agaricus lainnya yang merupakan hasil pengembangan dari para peneliti. Yang  banyak dikenal diantaranya Agaricus campestris dengan warna putih keabuan, dan Agaricus brunescens dengan ciri warna tubuh buah cokelat. Agaricus brunescens dikenal juga dengan nama portabella, portobello, atau brown mushroom.

agaricus-campestris-jamur-kancing-abu-abu-putih
agaricus campestris.jamur kancing abu abu
agaricus-brunescens-jamur-portabella
agaricus brunescens-jamur portabella

Khasiat

Jamur kancing mengandung asam glutamat dan beberapa jenis enzim yang berperan penting dalam pertahanan tubuh manusia. Kandungan serat yang cukup tinggi membuat jamur kancing digunakan sebagai obat mengatasi kolesterol. Kandungan gizi yang cukup tinggi juga membuat jamur kancing dipercaya sebagai alternatif pangan dalam mengatasi kekurangan gizi.

  1. Jamur Tiram (Pleurotus sp.)
kandungan nutrisi jamur tiram putih pleurotus ostreatus
jamur tiram putih pleurotus ostreatus

Klasifikasi

Kingdom            : Fungi

Divisi                  : Amastigomycotina

Kelas                   : Basidiomycetes

Ordo                   : Agaricales

Famili                 : Agaricaeae

Genus                 : Pleurotus

Spesies               : Pleurotus ostreatus

 Deskripsi

Jamur tiram/shimeji dikenal pula dengan nama  Oyster Mushroom dan nama ilmiah Pleurotus ostreatus. Nama pleurotus ostreatus diperoleh dari ciri batang yang berada sedikit dipinggir (Latin: Pleurotus) dan bentuk tudungnya yang menyerupai tiram (Latin : ostreatus) dengan bagian tengah agak cekung dan berwarna putih hingga krem. Tubuh buah jamur tiram tumbuh membentuk rumpun yang tersusun dari beberapa cabang yang menyatu. Daging buahnya berwarna putih pucat yang dan menjadi keras jika bertambah tua.

Jenis jamur tiram  yang beragam menempatkan jamur ini di posisi kedua dari segi jumlah produksi dunia yaitu sekitar 25%.  Tiongkok termasuk produsen jamur tiram yang utama. Jamur tiram yang dikenal dan paling banyak di produksi di Indonesia yaitu tiram  putih / white oyster. Padahal sebetulnya masih banyak jenis tiram lainnya seperti tiram abu/cokelat, tiram kuning, dan tiram pink. Bagi sebagian orang yang telah mencoba jenis-jenis jamur ini, tiram warna sebetulnya lebih gurih dibandingkan tiram putih. Hanya saja bagi sebagian masyarakat kita tiram warna masih ditakuti karena anggapan bahwa jamur berwarna biasanya beracun, padahal tentu tidak semua yang berwarna itu beracun.

Di alam bebas, jamur tiram bisa dijumpai hampir sepanjang tahun di hutan pegunungan daerah yang sejuk. Tubuh buah terlihat saling bertumpuk di permukaan batang pohon yang sudah melapuk atau pokok batang pohon yang sudah ditebang. Hal ini dikarenakan jamur tiram termasuk organisme yang bersifat saprofit yaitu hidup pada bahan organik yang sudah mati seperti kayu lapuk. Jamur tiram yang tumbuh di daerah dingin biasanya memiliki ciri  tudung lebih tebal jika dibandingkan dengan jamur tiram yang tumbuh di suhu yang lebih panas.

Teknik budidaya jamur tiram termasuk yang paling mudah diantara jamur konsumsi yang lainnya. Ini dikarenakan masa inkubasi yang relatif pendek, masa panen yang terbilang cepat dan pasar yang sudah jelas. Lebih dari itu, jamur tiram biasanya dipelihara dengan media tanam serbuk gergaji steril yang dikemas dalam kantung plastik sehingga lebih praktis dan aman. Bagi para pemula terutama jika memiliki lahan di daerah yang termasuk dataran tinggi yang sejuk, ada baiknya memulai usaha jamur dengan berbudidaya jamur tiram. Tetapi tidak menutup kemungkinan jamur ini dibudidayakan di daerah yang panas.   Saat ini sudah banyak rekan-rekan yang membudidayakan jamur ini di daerah seperti Jakarta, Cirebon, medan, tasikmalaya, dan lain-lain yang notabene merupakan daerah bersuhu panas.

Khasiat

Selain rasanya yang enak, jamur tiram juga mengandung nilai gizi yang tinggi. Jamur tiram mengandung kadar protein sebesar 10-30% dan garam mineral yang presentasenya lebih tinggi dibandingkan dengan daging kambing. Dalam dunia medis, jamur tiram banyak memberikan manfaat sehingga banyak digunakan untuk mengatasi beberapa macam penyakit, misalnya kandungan zat besi dan niasinnya dapat meningkatkan sel darah merah (eritrosit), kandungan seratnya dapat menurunkan kadar kolesterol tubuh, kandungan polisakarida lentinan di dalamnya mampu menekan pertumbuhan sel-sel kanker, dan kandungan asam folatnya bermanfaat bagi ibu hamil.

  1. Jamur Merang (Volvariella volvaceae)
jamur merang volvariella volvaceae
jamur merang

Klasifikasi

Kingdom             : Fungi

Divisi                   : Amastigomycotina

Kelas                    : Basidiomycetes

Ordo                     : Agaricales

Famili                   : Plutaceae

Genus                   : Volvariella

Spesies                 : Volvariella volvaceae

Deskripsi

Nama ilmiah Volvariella volvacea diperoleh dari ciri-ciri tubuh buahnya yang memiliki volva atau cawan berwarna cokelat muda yang merupakan selubung pembungkus tubuh buah pada saat berada pada stadium telur. Pada stadium inilah jamur merang memiliki nilai ekonomis yang tinggi. Keterlambatan panen akan mengakibatkan tudung membuka dan biasanya nilai jualnya  menurun drastis.

Jamur merang (Volvariella volvacea) merupakan  salah satu spesies jamur pangan/konsumsi yang banyak dibudidayakan di Asia Timur dan Asia Tenggara yang beriklim tropis atau subtropis.  Jumlah produksinya sekitar 16% dari total produksi jamur dunia dan  tersebar luas dari daratan Cina, Filipina, Thailand, Malaysia, Indonesia hingga pantai timur Afrika. Jamur merang telah lama dibudidayakan sebagai bahan pangan karena spesies ini termasuk golongan jamur yang paling enak rasanya.  Masyarakat terbiasa menyebut jamur ini dengan jamur merang karena  di alam jamur ini banyak tumbuh di media merang (jerami). Sekalipun begitu sebetulnya jamur merang dapat hidup di media-media limbah lainnya yang mengandung selulosa seperti limbah kapas, daun pisang, ampas batang aren, limbah kelapa sawit, limbah kertas, ampas sagu, eceng gondok, limbah sayuran, sabut kelapa, hingga serbuk gergaji.

Lingkungan hidupnya yang relatif panas (sekitar 32-38°C) mengakibatkan sebaran budidayanya lebih banyak dilakukan di  daerah dataran rendah. Di Indonesia sendiri  jamur ini lebih banyak dibudidayakan di daerah pantura. Sentra produksinya dapat kita temui di daerah seperti Karawang, Bekasi, subang, dan Cirebon.

Khasiat

Jamur merang mengandung protein yang cukup tinggi yaitu 5-26,49%, 8,7% karbohidrat, 13,40% serat serta mengandung berbagai macam mineral seperti Na, Ca, Mg, Fe, dan Cu. Jamur merang pun mengandung senyawa volvatoksin atau flamutoksin yang berperan dalam memacu kerja jantung. Selain itu, jamur merang mengandung antibiotic yang berguna untuk mencegah anemia, kanker, dan menurunkan tekanan darah tinggi.

  1. Jamur Shiitake (Lentinula edodes)

Lentinula edodes

Klasifikasi

Kingdom             : Fungi

Divisi                   : Amastigomycotina

Kelas                    : Homobasidiomycetes

Ordo                     : Agaricales

Famili                   : Marasmiaceae

Genus                   : Lentinula

Spesies                 : Lentinula edodes

Deskripsi

Dilihat dari morfologinya, jamur shiitake memiliki bentuk tudung seperti payung yang terbuka lebar dengan  warna coklat tua dan bulu-bulu halus di bagian atas permukaan payung, sedangkan bagian bawah payung berwarna putih. Warna tangkai sama dengan warna tudungnya hanya sedikit lebih keras. Jamur shiitake memiliki variasi ukuran tudung antara 2,5 -9 cm dengan panjang tangkai 3-8 cm. Dalam keadaan segar, daging buahnya lebih elastis, namun jika kering daging buahnya menjadi liat.

Jamur shiitake atau Hioko paling banyak dikonsumsi dan diproduksi di Jepang, Tiongkok, dan Korea Selatan. Jumlah produksinya sekitar 10% dari total produksi jamur dunia.  Jamur yang sebenarnya berasal dari Cina ini dan dikenal dengan sebutan ‘Chinese Black Mushroom’, sudah dikenal sebagai jamur konsumsi sejak 2000 tahun yang silam di dataran Asia. Sekalipun berasal dari Cina, jamur ini lebih popular sebagai jamur khas jepang dengan sebutan shiitake yang artinya jamur yang tumbuh pada pohon Shii (Castanopsis cuspidate). Hal ini dikarenakan produksi jamur Shiitake secara massal pertama kali dilakukan di Jepang yaitu pada tahun 1940an sedangkan budidaya secara traditional sudah dimulai sejak 900 tahunan yang silam di Cina.

Khasiat

Jamur shiitake merupakan jenis jamur yang memiliki kandungan gizi cukup lengkap. Bahkan kandungan protein dalam jamur shiitake (19-35%) lebih tinggi dibandingkan dengan kandungan protein dalam beras (7,38%) dan gandum (13,2%). Kandungan lemak tak jenuh dan linoleatnya sebesar 72%, lemak ini bukanlah lemak yang berbahaya bagi tubuh sehingga nutrisi ini sangat baik. Shiitake pun mengandung 9 dari 20 asam amino yang diperlukan oleh tubuh yang berguna dalam pembentukan sel-sel baru dan mengganti sel-sel yang rusak. Selain itu, kandungan vitamin dalam jamur ini pun cukup lengkap misalnya vitamin B1, B2, B3, B12, C, D2, dan biotin.

Selain nutrisi lengkap yang dikandungnya, shiitake juga mengandung senyawa-senyawa yang sangat bermanfaat dalam dunia medis, misalnya, senyawa lentinan bermanfaat dalam mencegah tumbuhnya sel-sel kanker, membunuh bakteri, sebagai antivirus, dan meningkatkan daya tahan tubuh. Selain lentinan, shiitake juga mengandung asam folat yang dapat digunakan sebagai anti anemia, melancarkan peredran darah, mengatasi penyakit degeneratif serta menurunkan kadar gula dalam darah pada penderita diabetes.

  1. Jamur Kuping (Auricularia auricula)

Auricularia auricula

Klasifikasi

Kingdom                         : Fungi

Divisi                   : Amastigomycotina

Kelas                    : Basidiomycetes

Ordo                     : Auriculariales

Famili                   : Auriculariae

Genus                   : Auricularia

Spesies                 : Auricularia auricular

Deskripsi

Jamur yang banyak dipakai untuk masakan Tionghoa ini sebetulnya memiliki beberapa jenis diantaranya jamur kuping putih (Tremella fuciformis), jamur kuping hitam (Auricularia polytricha) dan jamur kuping merah (Auricularia auricula-judae). Dinamai jamur kuping karena bentuknya yang mirip dengan kuping (telinga). Basidiocarp atau tubuh buahnya memiliki lebar 4-10 cm dengan bentuk yang berlekuk-lekuk.  Permukaan atas  biasanya berwarna sedikit mengkilap dan berbulu halus di bagian bawahnya.  Dalam keadaan basah, tubuh buah jamur kuping akan terasa kenyal dan licin sedangkan dalam keadaan kering akan terasa kaku. Jamur kuping pun memiliki tangkai yang menempel pada substrat, hanya saja ukuran tangkainya sangat pendek sehingga terlihat seolah-olah jamur ini tidak memiliki tangkai.

Jamur kuping atau biasa disebut supa lember oleh masyarakat sunda termasuk  jamur yang pertama kali dibudidayakan bahkan sebelum jamur Shiitake di Cina. Di Indonesia, jamur kuping sangat lumrah dikenal di kalangan masyarakat menengah ke bawah setelah jamur merang. Masyarakat tradisional masih sering mengambil jamur ini dari alam terutama di musim penghujan yang biasanya tumbuh pada batang-batang yang sudah lapuk. Jamur kuping, terutama jenis jamur kuping hitam (Auricularia polytricha), saat ini sudah banyak dibudidayakan secara modern dalam log-log serbuk kayu.

Khasiat

Salah satu penggunaan jamur kuping adalah sebagai bahan pelengkap pada beberapa jenis sup, misalnya sup kimlo. Walaupun bentuk dan warnanya tidak begitu menarik tapi jamur kuping memiliki kandungan gizi yang cukup tinggi, diantaranya adalah karbohidrat (61,68%), protein (13,8%), serat (3,5%), lemak (1,41%), dan kandungan mineral serta vitamin lainnya. Selain untuk bahan pangan, jamur kuping pun banyak digunakan sebagai bahan pengobatan misalnya melancarkan dan memperbaiki peredaran darah, mencegah atherosclerosis (penebalan dinding pembuluh darah), menurunkan kadar gula dalam darah pada penderita diabetes, menetralisir racun, mengatasi penyakit ambeien dan wasir, serta melancarkan pencernaan.

 

Rial Aditya

RumaJamuR – Ganesha Mycosoft

franchise/kemitraan kuliner jamur
franchise/kemitraan kuliner jamur

10 thoughts on “MEMBIDIK JENIS JAMUR YANG AKAN DIBUDIDAYAKAN (ARTIKEL BERSAMBUNG BAGIAN 4)”

Tinggalkan pesan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s