PERTANIAN

pendidikan bidang pertanian

Modern farming practices for a Kyoto farmer planting rice seedlings
Modern farming practices for a Kyoto farmer planting rice seedlings

Fakta yang ada saat ini jurusan pendidikan yang berhubungan dengan bidang pertanian di berbagai perguruan tinggi sudah kurang diminati. Tentunya hal ini menjadi suatu keprihatinan karena Indonesia adalah negeri yang diberi karunia tanah yang subur dan iklim yang cocok untuk pertanian sehingga menjadi negeri agraris. Minat yang menurun untuk melanjutkan pendidikan di bidang pertanian ini memang dapat difahami dengan kondisi paradigma masyarakat saat ini. Pada umumnya tujuan masyarakat melanjutkan pendidikannya atau pendidikan anaknya ke jenjang yang lebih tinggi adalah untuk mendapatkan pekerjaan yang baik atau pekerjaan dengan honor/gaji yang memadai. Sangat sedikit yang melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi dengan tujuan untuk lebih mengembangkan pengetahuan dan keahliannya sesuai dengan bakat dan minatnya atau potensi dirinya untuk kemudian nantinya dapat menghasilkan prestasi yang tinggi di dalam pekerjaannya baik sebagai pegawai maupun sebagai wirausahawan. Selengkapnya

PERTANIAN

BIOAKTIVATOR PEROMBAK BAHAN ORGANIK (Biodekomposer)

BIOAKTIVATOR PEROMBAK  BAHAN ORGANIK (Biodekomposer)

Produk sisa bahan organik pertanian (jerami), industri (biosolid), perkotaan (kertas, sayuran), dan halaman perumahan (daun, potongan rumput) menyebabkan imobilisasi hara, alelopati, dan sumber penyakit. Proses perombakan bahan organik secara alami membutuhkan waktu relatif lama (3-4 bulan) terutama yang mengandung lignin.

Sebagian besar materi limbah organik gimnospermae dan angiospermae merupakan lignoselulosa. Hampir setengah materi lignoselulose merupakan senyawa selulose dan 15% sampai 36% adalah senyawa lignin.

Artikel selengkapnya…

PERTANIAN

Pertanian Organik Selaras Dengan Agama

10159_padi3

Anjuran pemerintah di masa lalu berupa program semacam insus, bimas atau inmas yang mengacu kepada gerakan revolusi hijau dengan tujuan semata-mata hanya kepada peningkatan produktifitas, tanpa disadari sudah mengarahkan para petani meninggalkan tuntunan agama Islam dalam mengelola alam dan pertanian. Paradigma dari gerakan revolusi hijau (green revolution) yang dikenal juga dengan sistem pertanian konvensional diantaranya adalah dengan mengubah potensi genetik dari tanaman juga meningkatkan penggunaan input-input eksternal seperti dengan meningkatkan pemakaian air, lebih banyak pupuk, lebih banyak pestisida, dll. Paket teknologi gerakan revolusi hijau yang dibawa yaitu dengan penyeragaman tanaman (monocropping), penggunaan varietas dengan produktifitas tinggi, herbisida, pestisida dan pupuk kimia buatan.

Dampak dari aplikasi paket teknologi ini yang sudah dirasakan secara meluas adalah erosi pada tanah, salinisasi (penggaraman) tanah, polusi air, eksploitasi berlebihan, kemiskinan lahan, berkurangnya keragaman hayati, bertambahnya jenis organisme pengganggu tanaman serta meningkatnya residu pestisida kimia dan antibiotik dalam makanan yang membahayakan tubuh manusia. Dampak yang timbul ini tentu saja sudah jelas merupakan suatu bentuk pengrusakan terhadap lingkungan. Sedangkan Allah berfirman dalam Qur’an Surat ke-7, Al A’raaf ayat 56 : “Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdo’alah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik”.

Artikel selengkapnya

PERTANIAN

Pangan, Desa dan Eksistensi Jatidiri Bangsa

Eksistensi dan kekuatan jatidiri suatu bangsa diawali serta dilandasi oleh kemampuan negara dalam mencukupi kebutuhan dasar bangsa tersebut. Kebutuhan dasar utama manusia dan bangsa dimanapun adalah pangan mendahului kebutuhan dasar lainnya seperti sandang, papan dan pendidikan yang seharusnya sistemnya pun mengacu kepada jatidiri bangsa itu sendiri. Artikel selengkapnya

PERTANIAN

Usaha Pembuatan Vermikompos (Kompos Cacing Tanah) bagian 3

Kandungan Vermikompos

Vermikompos yang dihasilkan dengan menggunakan cacing tanah Eisenia foetida mengandung unsur-unsur hara sebagai berikut
Kandungan             Persentase
N                                1,4 – 2,2
P                               O,6 – 0,8
K                               1,6 – 2,1
C/N rasio               12,5 – 19,2
Ca                             1,3 – 1,6
Mg                         0,4 – 0,95
pH                           6,5 – 6,8
Bahan organic      40,1 – 48,7
Hormon      Auksin,sitokinin,giberrelin
Artikel selengkapnya…

PERTANIAN

APA YANG DIMAKSUD DENGAN PERTANIAN ORGANIK ?

IMG_4313

Lembaga dunia yang bergerak dalam pengembangan pertanian organik, IFOAM (International Federation of Organic Agriculture Movements), mendefinisikan pertanian organik sebagai sistem pertanian holistik (menyeluruh) yang dapat mendukung dan menjaga keanekaragaman hayati, serta keberlangsungan siklus biologi dan aktivitas biologi tanah.

Melalui sistem ini kegiatan usaha tani secara keseluruhan, baik proses produksi maupun proses pengolahan hasil dikelola secara alami dan ramah lingkungan tanpa menggunakan bahan kimia sintetis dan rekayasa genetik sehingga diharapkan mampu menghasilkan produk yang sehat, berkualitas serta berkelanjutan.

Lebih dari itu, harapan yang menjadi dasar dari dikembangkannya sistem pertanian organik ini ialah terbangunnya kemandirian dan kesejahteraan para petani yang selama ini identik dengan potret kehidupan yang serba kekurangan dan hanya menjadi objek pembodohan dari para pelaku pasar yang tidak bertanggung jawab.

Artikel selengkapnya…

PERTANIAN

yang Muda yang Bertani…yang Muda yang Berani

Wajah Ironis Negeri Agraris

Tidak mudah  memang meyakinkan diri ini untuk bergelut sekaligus berkawan  dengan  “dunia” yang semakin hari semakin ditinggalkan generasi muda negeri ini. ’Dunia’ yang identik dengan lumpur, kekeringan, banjir, hama, puso, ketergantungan pupuk kimia, kaum tua, hingga rendahnya tingkat kesejahteraan. Dunia yang bahkan oleh para sarjananya pun banyak ditinggalkan karena mungkin dirasa kurang bergengsi atau  tidak cukup potensial untuk memperoleh kesejahteraan hidup.

Seperti inilah wajah ironis negeri ini…negeri agraris yang seyogyanya memiliki dukungan iklim, sumber daya alam yang berlimpah dan juga sumber daya pemuda yang begitu potensial namun justru  ditinggalkan. Bahkan bukan tidak mungkin bila suatu hari  kita pun akan mengimpor sarjana pertanian di tengah ribuan sarjana pertanian yang dihasilkan negeri ini. Artikel selengkapnya..